Overblog Follow this blog
Edit post Administration Create my blog
la-bd-en-folie

la-bd-en-folie

my description blog

THE OTHER WORLD

La Morte Public Chat Room

Kevin : Hi, ada Kevin di sini!

Everly : Hi, Kevin!

Remy : Daging baru!

Kevin : LFP.

Remy : Lagi ngebut, njet?

Kevin : Lagi bete.

Everly : Ayo! Job?

Kevin : Vampire Slayer. Noble. The Eye.

Everly : *siul-siul* Jadi, The Eye itu lo, Kev? Keren! Gue Paladin. Citizen. Mistress Moon.

Remy : Oi, Eve! Lo janji sama gue kalo kita cuma berdua!

Kevin : Jadi dia ikut?

Remy : Itu pertanyaan gue, njet!

Everly : Lebih ramai lebih bagus! Ayo! Langsung ke Oddymir ya?

***

The Eye, Mistress Moon dan Spider Colossal berdiri di pintu masuk seperti koridor menuju piramida asap—Oddymir. The Eye tampak gagah dengan zirah hitam berbentuk jubah dewa kematian. Mistress Moon kelihatan menawan membungkus dirinya dengan gaun emas dan tudung serupa burung merak.

“Equip macam apa itu?” tanya Remy alias Spider Colossal pada Kevin.

“Cemburu?” Kevin balik tanya. Kemudian dalam satu tarikan nafas ia mencerocos, “Pharaoh’s Helmet, Tarantula’s Cover, Rudra Web. Itu semua Equip toko, benar? Mau sumbangan? Aku punya beberapa Equip ‘mahal’ sisa.”

“Di gerbang! Tidak mungkin!” pekik Everly tiba-tiba. “Big Boss, Bloody Tiamat! Kita beruntung! Kev, ikat dia! Ayo!”

Kevin dan Remy sepakat menunda perang mulut mereka. Di depan gerbang berdiri makhluk menjijikan, tubuhnya penuh lumpur dan darah. Segera setelah mereka bertiga maju, makhluk itu mulai membentuk dirinya menjadi seekor naga raksasa. Cerita Horor.

“Aku ikat. Kalian ikuti rencanaku,” kata Kevin. “Koridor ini sempit, Bloody tidak akan bisa leluasa bergerak. Setelah kutarik dia, Remy, kau menyelinap ke belakang. Serang dari dua arah sekaligus. Everly fokus saja pada stabilisasi pertahanan. Jaga kami dari belakang.”

Remy mendengus kesal. “Terserah.”

Dari senjata sabit hitamnya, Kevin, melontarkan rantai perak hijau yang seketika membelenggu musuh. Ia tarik makhluk yang tengah terperangkap itu ke depan. Remy menyelinap, meski nyaris termakan, ia berhasil. Everly menyelesaikan tugasnya dari belakang, memantau keseluruhan pertahanan dua temannya. Menyelubungi mereka dengan semacam tirai cahaya. Serangan beruntun dari anak panah Remy dan arus kegelapan Kevin, menghancurkan naga raksasa itu tidak lama kemudian. Tubuhnya meledak, sisanya meleleh. Mereka menang.

(0.0)~

La Morte Private Chat Room

Kevin : Nice!

Everly : Yeaaay!

Remy : Beruntung. Well, gue Off dulu. Ada les.

(Remy Offline)

Everly : Besok lagi, ya, Kev? Gue juga Off dulu. Tugas kampus, biasa.

(Everly Offline)

Kevin : ... yeah.

***

Tatapan Kevin kosong memerhatikan layar komputer. Tidak terasa, sudah setengah hari terlewat sejak ia mulai menyalakan komputer kemudian bermain Game. Sekarang, mau tak mau karena sudah tidak ada yang bisa ia lakukan di dunia maya, ia kembali pada kenyataan. Pada hidup yang sebenarnya. Di mana di kehidupan ini, Kevin selalu sendirian. Menarik diri dari ranah sosial.

Lewat celah gorden hijau di jendelanya yang tertutup, Kevin mengintip. Kamarnya berada di lantai dua, di bawah sana, di pinggir jalan, ada beberapa orang yang tengah bercengkerama. Iseng, Kevin buka jendelanya. Ia menyilakan “angin bumi” untuk menyapanya, dan tidak sengaja, obrolan orang-orang di pinggir jalan terdengar.

“... hanya desas-desus. Tidak sepenuhnya benar.”

“Media terlalu berlebihan. Tidak mungkin anak itu membunuh seluruh keluarganya, mengambil organ tubuh yang bisa dijual kemudian menggunakan uangnya untuk bermain Game.”

“Ya. Itu tidak mungkin.”

***

Kevin’s Diary

La Morte merupakan sebuah permainan Online. Di dunia ini, terbagi tiga wilayah. Dua wilayah hantu bernama Oddymir dan Anatravha—kompleks reruntuhan rumah sakit. Kemudian satu wilayah aman bernama Glassnite—kota kaca.

Terdapat tiga golongan tingkatan antar pemain, dan Job. Newbie untuk pemula, Citizen untuk menengah, kemudian Noble, bagi mereka yang terpilih saja. Sedangkan Job, ada Vampire Slayer, Paladin dan Chaos Bringer.

Jujur. Setelah kehidupan nyata berakhir, dunia ini seketika menggantikannya. Di dalam sini mereka mengerti. Di dalam sini terdapat pengakuan, hormat dan “harga diri”.

Menghilang selamanya di dalamnya? Itu tujuan. Itu mimpi. Itu harus tercapai.

***

La Morte Public Chat Room

GM : Event “Colour Your Brain” dari La Morte dalam rangka menyemarakkan hari kemerdekaan dimulai besok. Bentuk satu tim berisi 10 anggota. Rebut Phoenix’s Eye yang digunakan sebagai trofi untuk Event kali ini. Selamat berjuang, para pemburu.

***

La Morte Private Chat Room

Everly : Kev, sudah punya tim?

Remy : Jangan bilang, lo mau ajak dia?

Everly : *senyum manis* kalo ada Kevin, kita jadi lebih aman. Bentar, gue Invite dulu.

Remy : Bah! Tapi ke mana dia? Akhir-akhir ini dia cuma OL, jarang Chat. Jangan-jangan dia lupa sama kita? Tipikal pemain jago! Cepet lupa sama kita yang masih bego begini!

Everly : Jangan gitu, Rem. Mungkin Kevin sibuk. Tapi, lo ngerasa aneh enggak? Dari kemarin gue Hunting ke Anatravha, gue lihat Kevin di sana.

Remy : Lah, aneh kenapa?

Everly : Aneh aja ... Kevin selalu ada di tempat yang sama. Di samping tempat tidur di salah satu reruntuhan. Dia diem aja. Gue tanya, dia enggak jawab.

Remy : Dia selalu ada di situ? Dan diem aja? Dasar orang aneh!

Everly : Terus ... gue selalu takut tiap lihat dia di sana. Enggak tahu kenapa ....

Remy : Yah, enggak usah dipikirin!

(Kevin Accepted Your Invitation)

Everly : Kevin terima! Dia mau satu tim sama kita! Kev, jawab dong! Ngobrol sama kita.

Remy : Sok bener itu manusia. Yaudah, gue Off dulu.

(Remy Offline)

Everly : Kev ....

***

Keesokan harinya, turnamen memperebutkan Phoenix’s Eye dimulai. Kevin hadir, masih tetap diam. Ia memimpin sembilan anggota lain dengan sangat baik. Mereka merupakan tim pertama yang berhasil membakar Oddymir beserta penjaga kunci. Kunci kemudian digunakan untuk membuka ruang bawah tanah di Anatravha, mereka juga berhasil melewati teka-teki di sana. Terakhir, mereka tiba di Glassnite untuk menghadapi Phoenix Deity. Rintangan terakhir berhasil dilewati. Mereka memproklamasikan kemenangan setelah mengambil Phoenix’s Eye dan berparade mengelilingi Glassnite.

Kevin menjadi legenda di La Morte. Game ini memiliki popularitas tertinggi karena memiliki seorang Kevin di dalamnya. Setelah Event ini, Event lain yang ia ikuti berhasil ia menangkan. Dan ia selalu diam. Selalu berada di tempat yang sama. Ada yang bilang, Kevin sebenarnya tidak ada. Atau ID-nya di Hack seseorang. Kebenaran simpang siur. Sosok Kevin ditakuti, dihormati, diragukan, semua sekaligus. Meski begitu, dunia maya tetap berjalan. Tetap menjadi media untuk hal-hal aneh yang akan terus bermunculan. Hanya saja, kini mereka mendapatkan satu karakter yang mampu, dan akan dikenang untuk selamanya. Sosok bernama Kevin ... atau biasa dikenal dengan sebutan, The Eye.

***

“Jadi, anak itu bunuh diri?” kata orang di pinggir jalan. “Tragis.”

“Jasadnya baru ditemukan kemarin. Mayatnya sudah membusuk.”

Seperti biasa. Gosip terbawa “angin bumi” menuju celah jendela dengan gorden hijau. Menyampaikan segalanya pada seorang anak yang selalu mengintip ... selalu, menginginkan kesendirian.

Share this post

Repost 0

Comment on this post